
Dengan tinggi 638 meter dan 111 lantai, gedung ini di antaranya digunakan untuk hotel supermewah dan perkantoran.

Masalah yang kerap mengemuka, sewa gedung elite itu amat mahal, bisa satu setengah sampai satu tiga perempat kali lebih mahal dibanding gedung megah lain. Namun, bisa jadi, karena tertarik efektivitas, para usahawan bersedia menyewa tempat itu untuk menjadi markas baru perusahaan mereka.
Pembangunan gedung pencakar langit merupakan perpaduan besarnya kapital, nyali, teknologi, dan bisnis. Butuh teknologi canggih untuk meluncurkan air dari permukaan tanah ke lantai 111. Dalam cara lama, air naik sampai, sebutlah, ke lantai 30. Di sini ada penampungan air khusus, lalu menggunakan pompa lagi meluncurkannya ke lantai 60. Lalu naik ke lantai 90 dan seterusnya. Bisa dibayangkan energi yang dikerahkan untuk memompa air ke ketinggian 638 meter? Pengamanan ekstra pun mutlak agar tidak sampai terjadi sesuatu yang tidak dikehendaki.
Aspek yang tidak kalah pentingnya, berapa tahun ikhtiar mengembalikan modal senilai Rp 20 triliun itu? Lima tahun? Lima belas tahun? Tidak ada garis waktu yang jelas, sebab semua tergantung cara penjualan gedung dan seberapa laku gedung itu. Ini hal yang membutuhkan daya tahan (endurance) kuat. Untuk diketahui, membuat gedung 50 lantai diisi penuh pembeli atau penyewa butuh waktu tiga sampai enam tahun.
Beberapa aspek ini hanya catatan-catatan kecil. Masih banyak aspek yang perlu diperhatikan. Namun, marilah kita melihat pembangunan gedung pencakar langit itu dari pesona positif. Misalnya, akan ada beberapa ribu orang bekerja langsung dengan pembangunan gedung dan sekitar 70.000 orang secara tidak langsung bersentuhan dengan pembangunan Signature Tower. Akan terjadi perputaran uang yang amat besar, yang akan membuat perekonomian Ibu Kota lebih bergairah.
Marilah pula dengan raut positif kita melihat bahwa kalau gedung itu selesai dibangun, akan membuat wajah Ibu Kota lebih memesona. Akan membuat Jakarta memiliki ikon baru yang menakjubkan. Bayangkanlah, di antara gedung-gedung tinggi di sentra bisnis Jakarta, mencuat satu gedung yang tingginya 638 meter. Gedung 101 di Taipei, Petronas di Kuala Lumpur, Burj Al Arab Dubai, Sears Tower Chicago, gedung IFC di Hongkong, ”putus semua”, dan mereka mesti ”menengadah” untuk melihat gedung di Jakarta ini. Turis asing otomatis akan lebih kerap ke Jakarta, di antaranya untuk melihat gedung ini.

Kalau CNN, CNBC, atau BBC News hendak memasang foto untuk melukiskan Jakarta, tidak lagi mengambil gambar di daerah marjinal, tetapi foto gedung ini, seperti sudah mereka lakukan untuk Hongkong, Taipei, Kuala Lumpur, Chicago, dan sebagainya. (Abun Sanda)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar